“Squid Game” yang Buruk dan Pujian yang Berlebihan

 

Squid Game Poster

 

“Salah satu jenis keangkuhan spiritual adalah saat orang berpikir bahwa mereka bisa bahagia tanpa uang.”

– Albert Camus

Manusia terlalu naif jika menganggap dirinya bisa hidup bahagia tanpa uang. Sejak lama, jauh sebelum Albert Camus menyadarinya, uang sudah terlanjur menjadi kebutuhan manusia. Sebagai objek, sebagai alat tukar, sampai-sampai yang ditukar adalah kebahagian itu sendiri. 

Lewat sembilan episode, series berjudul Squid Game membicarakan keduanya, uang dan kebahagiaan. Orang-orang menyerahkan dirinya terjebak dalam permainan yang kompetitif dan mempertaruhkan nyawa mereka demi uang. Alasannya beragam, untuk membayar utang, mengobati ibunya, memperbaiki kehidupannya, dan lain-lain. Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan uang, yang secara pragmatis jadi solusi atas pelbagai penderitaan di hidupnya. Dengan kata lain, untuk bahagia.

Sejak dirilis pada 17 September 2021 di Netflix, Squid Game mendominasi pokok-pokok bahasan dalam ruang-ruang sosial, ide dan indra, maya dan nyata. Kita semua membicarakan 9 episode yang disajikannya, mengagumi tema yang ditawarkannya, memuja tokoh-tokoh di dalamnya, menyanjung idenya, bahkan elemen-elemen di dalamnya mendadak kita pakai, dan kerap lalu-lalang di depan mata kita.

Sejalan dengan suksesnya dalam ruang-ruang sosial, series Korea ini juga sempat merajai Top 10 Netflix di AS, mengalahkan Sex Education dan Clickbait. Sementara di negara asalnya, Squid Game mengambil tahta Sweet Home

 

SPOILER ALERT!

SPOILER ALERT!

SPOILER ALERT!

 

Squid Game Sebagai Produk Hiburan

Squid Game cukup berhasil memenuhi fungsinya sebagai sebuah produk hiburan. Series ini memberikan kita pengalaman elementer yang segera. Meski memerlukan penguraian verbal dan visual, tidak sulit bagi kita menerimanya dan mengubah sensasi itu jadi imaji yang bermakna, lantaran tema yang disuguhkan dekat dengan realitas kita, dan dengan segera, kita merasa sedih, haru, takut, tegang, hingga marah. Seolah-olah kita berada di sana, jadi salah satu pemain yang siap mati tertembak kapan saja demi segunung uang kertas. 

Tengok saja, bagaimana kita (penonton) mengidentifikasi Seong Gi-Hun (protagonis), bersimpati, hingga menempatkan diri kita dalam posisinya sejak episode pertama. Kita iba dengan perjuangan Gi-Hun mencari uang untuk membeli kado ulang tahun anaknya. Belum lagi, ia harus menandatangani surat penyerahan organ sebagai jaminan utang-utangnya. Undangan misterius untuk permainan berhadiah miliaran pun bak oase di padang pasir yang tandus. 

Squid Game juga mengajak kita bersimpati pada tokoh-tokoh sekunder di dalamnya. Dengan memperlihatkan masalah mereka masing-masing, yang meski tidak kita alami, namun kesedihannya tersampaikan dengan baik ke dalam benak kita. Kita bahkan dipaksa membenci Jang Deok-su, yang dengan wajah bengisnya, menjelma jadi sosok antagonis yang berpotensi jadi musuh terberat Gi-Hun. Padahal sama seperti Gi-Hun, Sang-woo, maupun Sae-byeok, Deok-su hanya ingin berbahagia. 

Kita pun ikut dilema ketika Gi-Hun terpaksa membohongi si “Kakek 001” demi memenangkan pertandingan kelereng. “Gi-hun memang salah, tapi tidak apa,” pikir kita. Namun dengan cepat, kita malu saat tahu si kakek rupanya hanya pura-pura dibodohi. 

Ingat lagi seberapa marah kita kala Sang-woo membunuh Sae-byeok. Padahal, kita semakin menyukai Sae-byeok yang perlahan-lahan mulai hangat, di atas segala kemisteriusannya. Bahkan, kita berandai-andai kalau Gi-hun akan punya hubungan spesial dengan Sae-byeok nantinya. 

Selaku produk hiburan, Squid Game juga punya nilai-nilai yang membuatnya kukuh sebagai sebuah karya seni terapan. Lantaran tidak hanya dibangun dengan nilai estetis belaka, nilai praktis pun tak luput dari keseluruhan bentuknya. Kita bisa memetik banyak pesan semacam: uang tidak bisa membeli kebahagian; jangan pernah berutang di luar batas kemampuan kita; belajar dan bekerja dengan giat untuk hidup yang lebih baik; dan lain sebagainya. Memang bukan nilai yang sama sekali baru, tetapi pantas untuk terus digaungkan. 

Ada banyak momen yang memberikan kita banyak sensasi dan nilai-nilai yang bisa kita petik, yang tidak mungkin kita dapatkan secara instan nan sekaligus dalam kehidupan nyata. Sebab itulah kita mengonsumsi produk hiburan, dan sebab itu pula kita terhibur oleh Squid Game. 

 

Squid Game Sebagai Sebuah Film

Motivasi protagonis yang kurang kuat, perkembangan karakter yang tidak konsisten, plot holes di mana-mana, kontinuitas yang berantakan, plot yang mudah ditebak sejak awal, hingga twist yang stereotype, menempatkan Squid Game dalam jajaran film (series) yang buruk. 

1. Protagonis yang labil

Miskin, bodoh, tampang pas-pasan, tetapi baik adalah cara paling ampuh membuat penonton bersimpati pada protagonis, Gi-Hun. Namun sepanjang cerita berjalan, karakter harus berkembang. Sayangnya, perkembangan karakter Gi-Hun tidaklah konsisten. Ia masih bodoh pada game pertama. Ramah dan baik pada sesama peserta di ruang tidur raksasa mereka. Menang dengan cara yang konyol pada game berikutnya. Menjadi kuat dalam barisan terdepan perang tarik tambang. Curang dan berbuat jahat demi memenangkan game ke-3, dan membuat kita memaklumi kenaifannya selama ini. Sampai sini, Gi-Hun makin berkembang dan mengerti bahwa cara untuk bertahan memang dengan saling menjatuhkan. Namun, usai game ke-4, Gi-Hun mendadak kembali jadi malaikat, memarahi Sang-woo yang mendorong salah satu peserta dari atas jembatan kaca. Alih-alih tak ingin mengubah Gi-Hun jadi iblis, langkah itu justru membuat Gi-Hun jadi malaikat labil. 

Pascatragedi game ke-4, Gi-Hun sekonyong-konyong memusuhi Sang-woo dan berkomplot dengan Sae-byeok. Sialnya, kebodohan Gi-Hun lagi-lagi muncul dengan kematian Sae-byeok di tangan Sang-woo. Gi-Hun memang harus (dibuat) marah pada Sang-woo agar bersedia melawan teman kecilnya itu di game terakhir. Namun, kematian Sae-byeok bukanlah pilihan yang tepat untuk memotivasinya. Selain karena kedekatan Sae-byeok dan Gi-Hun belum meyakinkan, langkah agresif Sang-woo juga seharusnya sudah sering ia lihat sejak game pertama. Pertarungan keduanya di game terakhir pun terasa sangat payah dan menyebalkan. Sang-woo yang rasionalis melawan Gi-Hun yang idealis. Apalagi kala Gi-Hun memilih mengakhiri permainan setelah memenangkannya …. Ah, dasar labil! 

 

2. Kontinuitas yang kacau

Hwang Dong-hyuk, sutradara Squid Game, mengaku belum memikirkan musim kedua. Maklum, proses produksi musim pertamanya saja memakan waktu hingga 13 tahun, boro-boro terpikir musim kedua. 

Pengerjaan Squid Game yang tiga tahun lebih lama dibanding film Avatar (2009) itu, tampaknya tak sepadan dengan hasilnya. Buktinya, Dong-hyuk masih saja melewatkan detail-detail kecil dalam film. Lihat saja, kesinambungan antara nomor dan wajah peserta adalah yang paling kentara. 

 

 

3. Plot Holes

Twist dalam Squid Game sejak awal sangat mudah ditebak dan aroma stereotipnya begitu kuat. Bagaimana mungkin ada seorang kakek-kakek pengidap demensia mengikuti game yang mematikan ini, dengan nomor urut 001 pula. Terlebih saat Gi-Hun bertanya alasan beliau ada di sana, sang kakek menjawab dengan frasa yang klise–ingin menikmati hidupnya yang sudah tak lama lagi. Padahal, game ini berhadiah uang. Orang-orang yang diundang tengah terdesak dan membutuhkan uang. Lalu si kakek? Ingin menikmati hidup, katanya. Aneh. 

Gi-Hun mengikuti game kedua meninggalkan ibunya dalam keadaan sakit. Hal itu dilakukannya untuk mendapatkan uang dan mengobati diabetes kronis yang diidap sang ibu. Namun, film yang berdarah-darah ini harus memberikan pesan positif nan mendidik yang bisa dipetik penonton di akhir film (episode). Sutradara pun memutuskan untuk “mematikan” sang ibu, agar Gi-Hun terkesan “kena batunya” karena memperoleh uang dengan cara yang salah. Maka, tercapailah sebuah gagasan “uang tidak bisa membeli kebahagiaan”, dan/atau semacamnya. Klise, tetapi tak masalah. Bahkan sekaliber Avengers: Endgame pun membawa gagasan receh “sepandai-pandai tupai melompat, dia akan jatuh juga”. Namun, ada banyak cara yang menyenangkan untuk mencapai gagasan-gagasan itu. Yang pasti, “mematikan harapan yang menjadi alasan protagonis berjuang” adalah formula yang sudah sangat sering dipakai sejak lama di banyak film. Melihatnya lagi di dekade ini–dengan bentuk dan gaya yang sama–hanya menghancurkan tangga dramatik yang sudah susah payah di bangun sedari awal. 

Musuh terbesar adalah orang terdekat, orang terdekat adalah musuh terbesar. Selayaknya “Kakek 001” yang ternyata adalah dalang dari Squid Game, polisi Wi Ha-joon pun menemui kenyataan bahwa saudara yang susah payah dicarinya adalah sang Front Man. Hal serupa juga terjadi pada Gi-Hun dan Sang-woo. Membosankan. 

 

4. Planting information, double information

Satu hal yang paling menyebalkan dari Squid Game adalah bagaimana cara mereka memakai flashback. Ada banyak dialog dan adegan yang seolah-olah tidak penting, tetapi sebenarnya merupakan kunci dari perkembangan cerita. Dalam teori penulisan skenario, teknik ini biasanya disebut planting information. Fungsinya untuk menipu penonton dan menghasilkan surprise. Namun di Squid Game, tiap kali planting information itu bekerja, mereka memutar lagi scene tersebut dalam bentuk flashback, seolah-olah ingin mengingatkan dan membuat kita lebih yakin. Hasilnya, double information, bak mengangguk sambil berkata “iya”. Rasanya seperti menyimak sinetron yang penontonnya merupakan orang tua dengan daya ingat lemah. 

Satu-satunya planting information paling apik dari keseluruhan series ini  adalah tidak terdeteksinya si kakek oleh boneka di game “lampu merah lampu hijau”. Dan yang membuatnya makin menarik, informasi ini ditanam dengan halus dan dalam, serta tidak diputar ulang (lagi) pada episode-episode berikutnya. 

 

5. Subplot yang mengalahkan main plot

Plot adalah rangkaian peristiwa yang memiliki sebab akibat yang jelas. “Cinderella bunuh diri, pangeran mati” bukanlah sebuah plot. “Cinderella bunuh diri setelah melihat pangeran mati” barulah sebuah plot. Film panjang–apalagi series 9 episode–punya konsekuensi menjenuhkan jika diisi dengan satu plot utama (besar) saja. Maka itu, subplot hadir di tengah-tengah main plot untuk mengisi kekosongan selama berjalannya cerita.

Karena miskin dan membutuhkan uang, Gi-Hun mengikuti Squid Game. Ia membutuhkan uang karena harus membayar utang, demi mendapatkan hak asuh anak, dan untuk mengobati ibunya. Selama memainkan Squid Game, Gi-Hun bertemu banyak orang dan menjalin hubungan sentimental dengan beberapa di antaranya. Orang-orang itu pun punya kisah dan petualangannya sendiri, yang dipertontonkan dengan porsi yang lebih kecil dibanding kisah Gi-Hun dan 6 permainan yang dimainkannya. Porsi yang lebih kecil ini tidak hanya dalam konteks durasi, tetapi juga tingkat dramatiknya. 

Dalam 6 jenis permainan yang dimainkan, hanya permainan pertama yang “menyenangkan”. Kita dikejutkan dengan orang-orang yang mati ditembak karena tereliminasi. Siapa yang sangka, gagal berarti mati. Sensasi menegangkan pun begitu terasa kala Gi-Hun dan peserta lainnya harus menyelesaikan permainan “lampu merah lampu hijau”, usai tahu konsekuensi tersebut. Di game kedua, para peserta harus mengukir simbol gulali yang mereka pilih menggunakan satu jarum. Menempatkan tokoh utama dalam posisi tersulit memang selalu berhasil membuat penonton tegang. Namun, cara bertuturnya terbilang payah. Permainan yang super ketat dengan ratusan penjaga dan kamera pengawas di mana-mana itu, bisa dicurangi dengan sebegitu mudahnya. Mereka yang gagal pun mati dengan cara yang sama, ditembak. Pada game ketiga, tarik tambang, cukup menguras ketegangan. Squid Game memakai metode repetitif–alih-alih duplikatif seperti di game kedua–mereka yang gagal mati dengan cara yang berbeda, yakni jatuh dari ketinggian. 

Duplikasi dan repetisi adalah pola pengulangan. Yang pertama pengulangan dengan cara yang sama, yang kedua dengan cara yang berbeda. Pola penceritaan seperti Squid Game, terasa lebih menyenangkan dengan pola repetitif karena mengandalkan tension, suspense, dan surprise yang diharapkan terus menerus naik. Karena jika tidak, mimik wajah penonton akan terus sama (film terasa flat). Sayangnya, Squid Game menduplikasi kematian peserta dalam permainan-permainan berikutnya. Gagal lalu mati ditembak, dan gagal lantas jatuh dari atas. Sementara game terakhir, tak perlu dibahas lagi, jelas sepenuhnya payah. 

Pola pengulangan itu hanya salah satu dari sekian banyak faktor yang membuat plot utama Squid Game lebih lemah dibanding subplotnya. Rasanya lebih seru mengikuti permusuhan antara Sae-byeok dan Deok-su yang rupanya sudah saling kenal sejak lama, sambil terus menebak-nebak sebab apa permusuhan keduanya. Subplot perjuangan polisi Wi Ha-joon mencari saudaranya juga jauh lebih seru dibanding plot utama Squid Game. Mulai dari menyelinap ke dalam mobil, menyamar jadi para pengawas permainan, berbaur di tengah-tengah tamu VIP, hingga kabur dari kejaran Front Man, merupakan rangkaian peristiwa yang menarik untuk diikuti. Belum lagi fakta lain yang terungkap bahwa beberapa pengawas permainan menjual organ peserta yang telah gagal, serta dokter (peserta) yang diminta membantu mereka. 

6. Antiklimaks yang (sungguh) basi

Lagi-lagi dengan cara yang basi, Squid Game membangun antiklimaks menggunakan metode “satu tahun kemudian”. Kita punya pertanyaan besar pascaadegan klimaks–game terakhir–yakni “bagaimana nasib Gi-Hun?” Squid Game pun memberikan jawabannya lewat sebuah antiklimaks, yang sayangnya banyak menyinggung logika kita. 

Pertama, Gi-Hun masih miskin. Dia rupanya tidak pernah memakai uang hasil kemenangannya. Lho? Itu berarti dia belum membayar utang dan masih baik-baik saja tah? Kedua, Gi-Hun menemui adik Sae-byeok setahun kemudian. Hal ini bertolak belakang dengan sifat “malaikat” yang melekat pada Gi-Hun. Ketiga, Ibu dari Sang-woo masih berdagang seperti biasa. Padahal, ia sebelumnya dihampiri aparat dan berpotensi ditahan karena menjadi jaminan dari utang-utang Sang-woo. Keempat, seberapa berartinya sosok Gi-Hun bagi si “Kakek 001”, sampai-sampai ia rela mengungkap identitasnya di penghujung usianya. 

Kelima, Gi-Hun memutuskan mengubah warna rambutnya jadi merah. Namun, tindakan Gi-Hun yang tidak masuk akal ini justru membuatnya jadi bagian dari antiklimaks yang berhasil. Kita sulit menerima keputusan Gi-Hun karena warna merah sama sekali tak cocok dengan karakternya yang kita kenal sedari awal. Mudahnya, “nggak Gi-Hun banget”. Di situlah poinya. Nggak Gi-Hun banget adalah cara yang cantik untuk menunjukan sosok Gi-hun yang sudah berubah. Melakukan langkah yang barangkali tidak akan pernah dia lakukan seumur hidupnya, mewarnai rambutnya jadi merah, tetapi Gi-Hun sudah berubah. Dia sudah bukan lagi Gi-Hun yang penonton kenal di episode 1. Warna merah juga memiliki banyak makna. Sebagai bentuk pelampiasan kemarahan Gi-Hun. Bisa juga berarti perubahan karakter Gi-Hun. Atau yang lebih implisit, bahwa merah yang minor digunakan sebagai warna rambut itu, mengukuhkan idealisme Gi-Hun. Good job Dong-hyuk!

 

Pujian yang Berlebihan  

Tidak ada keadilan dalam menilai keindahan (estetika) karena tolak ukurnya tidak pada konsensus maupun sektoral, melainkan tergantung pada individu masing-masing. Maka, penilaian terhadap setiap produk seni selalu saja tidak adil, dan memang harus selalu begitu. 

Upaya Squid Game membicarakan uang dan kebahagian patut diapresiasi. Sebagai sebuah produk hiburan, series itu sukses besar. Nilai estetis dan praktisnya pun mudah tersampaikan lewat cara bertuturnya yang sederhana alias biasa-biasa saja. Namun, sebagai sebuah produk seni, ia masih terlampau jauh dari pantas mendapat pujian yang teramat berlebihan.